Wednesday, 22 April 2015

NASA Ingin Bangun 'Negeri di Atas Awan' Venus



Badan Antariksa Amerika Serikat
(NASA) hingga ISRO milik India ramai-ramai mengirimkan satelit, para
astronot berani mati dipersiapkan untuk menjalankan misi sekali jalan,
robot penjelajah Curiosity dikirim ke permukaannya untuk mencari
tanda-tanda kehidupan di sana -- kalau bisa -- menemukan alien. Mars
kini menjadi primadona tujuan penjelajahan angkasa luar.

Sebagai
tetangga dekat Bumi dan kemiripannya dengan tempat tinggal manusia,
Planet Merah adalah destinasi terbaik penjelajahan manusia ke angkasa
luar. Namun, dari sisi jarak, ia bukan kandidat terbaik.

Tetangga
Bumi lainnya, Venus berada lebih dekat, antara 38 juta hingga 261
kilometer. Sementara, Mars berada di 56 juta sampai 401 kilometer.

Ukuran
Venus pun hampir sama dengan Bumi, juga punya kepadatan dan komposisi
kimia yang nyaris serupa. Namun, mengapa planet yang mengambil nama dari
Dewi Cinta itu tak jadi prioritas ekspedisi manusia?

Ternyata
tak mudah mencapai daratan Venus. Satelit-satelit bikinan manusia yang
dikirim ke permukaannya, paling lama bertahan hanya 2 jam, sebelum
binasa akibat kerasnya kondisi di planet tersebut.

Kondisi yang
keras itu termasuk tekanan atmosfer yang mencapai 92 kali lebih besar
dari Bumi, suhu udara yang mencapai 462 derajat Celcius, aktivitas
vulkanik yang kelewat ganas, kepadatan ekstrem atmosfernya yang sebagian
besar terdiri dari karbondioksida, sedikit nitrogen, dan lapisan awan
yang terbuat dari asam sulfat.

Untuk mengatasi kondisi ekstrem itu,NASA
memutar otak dan akhirnya menemukan cara yang memungkinkan manusia
memeriksa Venus secara dekat. Yakni, membangun kota yang mengambang di
langitnya. Sebuah 'negeri' di atas lapisan awan asam sulfat yang sangat
reflektif -- yang membuat permukaan planet itu tidak dapat dilihat jelas
dari luar angkasa.

Para ilmuwan dari Direktorat Analisis Sistem
dan Konsep atau Systems Analysis and Concepts Directorate di NASA
Langley Research Center merancang sebuah konsep pesawat luar angkasa
yang disebut The High Altitude Venus Operational Concept (HAVOC) untuk
digunakan dalam misi ke Venus.

Seperti di kutip dari CNET,
Senin (22/12/2014), roket yang lebih ringan dari udara tersebut
didesain untuk melayang di atas awan yang menyelubungi Venus selama
jangka waktu 30 hari, yang memungkinkan tim astronot untuk mengumpulkan
data tentang atmosfer planet tersebut.

Tak seperti di permukaan
Venus yang akan mematikan manusia, dengan melayang di atas awan, di
ketinggian 50 kilometer, kondisi yang dialami di sana serupa dengan Bumi
-- di mana tekanan atmosfer nyaris sama dan gravitasi yang hanya
sedikit lebih rendah dari planet kita. Kondisi tersebut memungkinkan
astronot tinggal relatif lama, juga secara efektif menghilangkan efek
samping yang kerap terjadi selama tinggal dalam waktu lama di kondisi
nol gravitasi.

Temperatur di ketinggian itu berkisar 75 derajat
Celcius, yang jauh lebih panas dari Bumi, namun masih bisa dikendalikan.
Berada di atmosfer Venus pada ketinggian tersebut juga menawarkan
perlindungan dari radiasi Matahari.

No comments:

Post a Comment